![]() |
| Gereja Basilik Agung Santo Yohanes Lateran |
Hari ini, Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran, sebuah perayaan penting yang mengingatkan umat akan kesatuan Gereja di seluruh dunia. Gereja katedral Paus di Roma ini, yang dijuluki Omnium Urbis et Orbis Ecclesiarum Mater et Caput (Induk dan Kepala semua gereja di kota Roma dan di seluruh dunia), menjadi simbol bahwa komunitas Gereja dipersatukan di dalam Kristus, Sang Batu Penjuru.
Basilik Agung Santo Yohanes Lateran dibangun setelah
diundangkannya Dekrit Milan oleh Kaisar Konstantinus. Pemimpin Romawi itu
memberikan kebebasan umat Kristiani, untuk menjalankan agamanya pada tahun 313.
Basilik itu didedikasikan oleh Paus Sylvester I pada 9 November 324. Gereja ini
diselesaikan pada abad keenam dengan pelindungnya adalah Santo Yohanes
Pembaptis dan Santo Yohanes Penginjil. Basilika Santo Yohanes Lateran
berfungsi sebagai takhta episkopal bagi Uskup Roma, yaitu Paus, yang juga
menjadi pemimpin Gereja Katolik seluruh dunia.
Perayaan ini bukan sekadar mengenang bangunan tua, tetapi
menegaskan kembali makna Bait Allah sebagai tempat kudus perjumpaan dengan
Tuhan. Dalam bacaan Injil hari ini, kisah Yesus mengusir para pedagang dari
Bait Allah menjadi pengingat profetis bahwa rumah Tuhan harus dijaga
kesuciannya dari transaksi duniawi.
“Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan
mendirikannya kembali.” Inilah pernyataan Yesus mengungkapkan misteri siapa diri-Nya.
Dalam tiga hari diri-Nya akan mendirikan bait Allah, tak lain adalah tubuh-Nya sendiri.
Yohanes menegaskan bahwa Bait yang dimaksud Yesus adalah tubuh-Nya sendiri.
Kehadiran Allah tidak lagi berpusat pada bangunan batu, melainkan pada diri
Yesus, Putra Allah yang hidup.
Yesus sedang menunjukkan bahwa, bukan hanya bangunan yang
bisa jadi kotor, tetapi hidup manusia pun bisa menjadi “bait yang ternodai,” ketika
hati kita dijadikan tempat transaksi dosa.
Apa alasan kita ke gereja? Saudara-saudari terkasih, banyak
dari kita yang menyatakan diri mencintai Tuhan, tapi tidak ke gereja. Atau aktif
di Gereja, dan rajin pelayanan, tetapi ada juga godaan-godaan yang membuat
hidup kita sendiri seperti Bait Allah yang mulai dipenuhi ternodai. Pergaulan
dan hiburan yang tidak sehat, relasi yang toxic dan tidak menghormati martabat
tubuh, beragam kecanduan, sikap amarah, iri, balas dendam, dan yang paling
sering melupakan Gereja.
Kita diingatkan bahwa Kalau kita jauh dari Gereja, kita
makin jauh dari sumber kekuatan rohani. Gereja bukan acara. Gereja bukan
rutinitas. Gereja adalah rumah tempat kita diingatkan siapa diri kita sebagai anak
Allah.(KomsosGPI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar